Sebuah tamparan bukan hanya gerakan tangan kencang yang mendarat kasar di pipi. Tamparan sesungguhnya adalah saat kenyataan yang disampaikan orang lain mendarat mulus di hatimu, membuatmu berpikir, lalu tersadar, bahwa selama ini kau tidak cukup baik. Ini bukan kesalahan mereka tapi sebuah sudut pandang objektif yang terkadang kita sendiri tidak menyadarinya. Dan saat tamparan itu terasa, dua pilihan muncul di hadapanmu, menyadarinya lalu memperbaiki atau menyadarinya lalu berhenti sebelum semuanya terlalu jauh. Namun, di luar itu semua yang terpenting adalah kesadaran itu sendiri. Tersadar dengan mata terbelalak hingga tak mampu memejamkan mata seberapa pun lelahnya dirimu. Sadar sesadar-sadarnya bahkan tidur tak bisa membuatmu lupa. Perasaan sesal yang begitu mengganggu. Seketika hati memilih untuk pergi menyadari ketidakpantasan yang ada pada diri. Sayang, strategi perang sudah dibuat dan kaki telah berpijak di medan perang, maka mundur adalah tindakan pengecut. Kini, tidak ada pilihan lain selain memperbaiki dan maju untuk memenangkan peperangan agar tak ada penyesalan jika pun itu mungkin akan jadi peperangan terakhirmu.
Showing posts with label my soul. Show all posts
Showing posts with label my soul. Show all posts
Saturday, July 27, 2013
Friday, September 14, 2012
Riuhnya Kembang Api Tak Pernah Abadi
Saat riuhnya kembang api lenyap tak pernah abadi.. Aku merasakan bahwa sebuah perasaan yang muncul tepat di satu waktu tiba-tiba terasa kabur bahkan hanya dalam hitungan menit berikutnya. Lalu sulit untuk menjawab tanya mengapa? membuatku kemudian berpikir apa yang telah kulakukan..? kemudian kucari-cari alasan untuk membenarkan tindakan yang telah lalu itu. Salahkah.. ??
Siapa yang bisa menahan ledakan kembang api yang kadung tersulut api.. membuncah ruah.. mengiringi perasaan lain yang membawaku berpikir untuk pergi. Seketika tekadku bulat.. lalu "waktu" membuatnya kabur seiring lenyapnya riuh bunga api. Tangan-tangan kecil itu seolah meraihku kembali tapi aku terlanjur merasa ingin pergi..
Terlalu banyak alasan yang kubuat untuk kepuasan ego ini..
Seribu penyesalanku bukan tidak menyeruak.. tapi keputusanku sulit tergoyahkan! aku telah membuat pembenaran-pembenaran sendiri.. itulah aku.
Siapa yang bisa menahan ledakan kembang api yang kadung tersulut api.. membuncah ruah.. mengiringi perasaan lain yang membawaku berpikir untuk pergi. Seketika tekadku bulat.. lalu "waktu" membuatnya kabur seiring lenyapnya riuh bunga api. Tangan-tangan kecil itu seolah meraihku kembali tapi aku terlanjur merasa ingin pergi..
Terlalu banyak alasan yang kubuat untuk kepuasan ego ini..
Seribu penyesalanku bukan tidak menyeruak.. tapi keputusanku sulit tergoyahkan! aku telah membuat pembenaran-pembenaran sendiri.. itulah aku.
Friday, September 7, 2012
Hatiku Bagai Ombak
Rasaku tertahan dalam..
seolah setiap kata yang kuucap hanya akan berubah menjadi butiran air mata yang tak mampu lagi tertahan. Sendiri dalam sepi.. seperti tawanan dengan kain membekap mulut menahan jeritan penuh luka yang tak teraba. Alunan tanya mempertanyakan apa dan mengapa.. hanya membawa anganku liar menapaki jejak lalu yang meluka.
Aku adalah jiwa yang merasa..
hatiku tenang merekam masa.. perlahan menyimpan bubuk mesiu letih tertahan. Hingga sampai di satu titik rasa itu tersulut api merambat cepat dan meluap..
Aku bukanlah aku, aku adalah seperti apa kau memperlakukanku..
seolah setiap kata yang kuucap hanya akan berubah menjadi butiran air mata yang tak mampu lagi tertahan. Sendiri dalam sepi.. seperti tawanan dengan kain membekap mulut menahan jeritan penuh luka yang tak teraba. Alunan tanya mempertanyakan apa dan mengapa.. hanya membawa anganku liar menapaki jejak lalu yang meluka.
Aku adalah jiwa yang merasa..
hatiku tenang merekam masa.. perlahan menyimpan bubuk mesiu letih tertahan. Hingga sampai di satu titik rasa itu tersulut api merambat cepat dan meluap..
Aku bukanlah aku, aku adalah seperti apa kau memperlakukanku..
Thursday, May 31, 2012
Di Batas Penantian
Hari ini, di batas sebuah penantian
kusadari bahwa masa itu telah berakhir. Harapan kini seperti kertas yang terbakar
hangus menjadi debu hilang diterbangkan angin lemah. Kesia-siaan itu mengiringi hidupku
yang lama menghuni pojok diskon sebuah toko berhiaskan jaring laba-laba di sudut
ruangnya. Tidak mengerti apa yang harus kulakukan, nyatanya hasratku terlanjur
menghilang di tengah lautan, lelah terombang-ambing ombak ketidakpastian. Tidak ada lagi harapan seiring keajaiban yang juga
enggan menghampiri. Hidupku seketika buntu, pijakan didepanku tertutup kabut tebal yang kuat mengkokoh menjadi benteng yang tak mampu
lagi kutembus. Ingin menangis, tapi air mataku pun sudah seperti sampah. Begitu tak
berharga tapi terlalu pecundang untuk melenyapkan diriku dari hidup yang
masih menghembuskan nafasnya.
Thursday, May 24, 2012
Desperate
Suatu malam aku merasa dunia seolah
begitu menghimpit, anganku berputar kembali ke masa lalu membawa ribuan penyesalan
datang menghunuskan pedang tepat di wajahku. Malam itu begitu sunyi menyentuh lembut hati membuatnya jujur merintih, dan seketika ragaku akui ketidakberdayaan yang selama ini tertahan. Tumpahlah air mata luapkan keputusasaan yang lama terkubur dalam pelarian.
Semua sedang tidak berjalan baik, tidak pula sesuai rencana.
Semua sedang tidak berjalan baik, tidak pula sesuai rencana.
Tuesday, May 22, 2012
Ego
yang kubenci..menyakiti
nyatanya..
bayangan sikapku sendiri
terlalu banyak tapi
menjadi alasan
ego bertahan
merajai
Subscribe to:
Posts (Atom)



